Kamis, 15 Agustus 2013

Fundamental dan Moderat: Jangan Bertengkar

Mungkin memang aneh, aku bisa tertarik dengan agama. Aspek kehidupan yang satu ini cukup menarik untuk dipelajari. Sebelumnya aku hanyalah anak yang suka sekali baca komik Jepang. Kemudian dari Jepang aku mengenal kebaikan hati untuk menjaga kelestarian alam. Dan kemudian dari Jepang dan alam juga aku mengenal makna dan nilai-nilai hidup yang terkandung dalam agama.

namun saat mulai mengenal agama....ternyata kusadari aku baru hanya mengenal inti-intinya saja. ihsan, iman, islam yang diajarkan dalam training The ESQ Way 165. Training itupun tak sampai membahas masalah agama yang lebih luas lagi, karena memang lembaga tersebut bukanlah lembaga agama namun hanya lembaga pendidikan moral saja. Otomatis karena sudah terlanjur mengetahui intinya dan jatuh cinta dengan konsepnya aku mulai mempelajari agama yang sebenar-benarnya.

Dalam mempelajari agama, pedoman yang paling dasar adalah Al-Quran. aku pun membacanya sedikit demi sedikit. Walau kata orang membaca langsung artinya itu berbahaya karena butuh ahli tafsir untuk bisa mengerti dan paham artinya. namun, aku tetap menyukai membaca artinya. karena membaca langsung Al-Quran akan lebih langsung pula firman Allah berucap ke hati kita.

Namun, peringatan orang-orang tersebut juga tidak sepenuhnya salah. Bahasa Al-Quran memang ada yang tidak mudah di mengerti, oleh karena itu tafsir dari seorang mufasir juga sangat diperlukan agar tidak terjadi penyalahgunaan ayat Al-Quran

Jika kuperhatikan penafsiran ayat Al-Quran terbagi dalam 2 pandangan besar yaitu Tekstual (Fundamental) dan Kontekstual (Moderate). Jika dianalogikan pandangan tekstual sama seperti seseorang yang tetap menjadi dirinya sendiri apa adanya meskipun banyak orang lain mencemoohkan atau mengkritik sikapnya istilahnya "What ever what people say". Sedangkan pandangan kontekstual maka seseorang tersebut akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, kritik dan saran dari orang akan ditanggapi dan disesuaikan dengan batasan yang seimbang (moderate) antara fundamental dan konteksnya.

Sebenarnya dua cara pandang ini sama-sama benar jika melihat sikap nabi Muhammad pada riwayat berikut:
Suatu ketika Rasulullah SAW memerintahkan pada sekelompok sahabat untuk tidak melakukan shalat asar, kecuali di perkampungan Banni Quraizah. Ternyata sebelum mereka sampai di tempat tersebut waktu asar sudah hampir habis, sehingga sebagian sahabat terpaksa melakukan shalat berdasarkan ijtihadnya, dan sebagian yang lain melakukan shalat asar setelah mereka sampai di tempat yang ditentukan Rasulullah SAW. Kelompok yang kedua ini juga melakukan ijthad dengan mengambil zahir teks perintah. Setelah kasus ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau membenarkan semua yang dilakukan para sahabatnya 

Hampir sama seperti Tokugawa dan Meiji di negara Jepang
Model perbedaan ini hampir sama seperti perbedaan pandangan antara Tokugawa dan Meiji di negara Jepang. Tokugawa pernah membantai pemeluk agama nasrani di Amakusa karena menghawatirkan pengaruhnya dapat merusak nilai-nilai budaya Jepang. Namun Meiji menganggap Jepang terlalu tertutup dan bisa menyebabkan keterbelakangan terhadap bangsa Jepang. Kedua kubu ini akhirnya bertarung dan pastinya menumpahkan banyak darah demi mengusung idealisme yang mereka percayai. Namun pada akhirnya baik orang-orang Meiji maupun Tokugawa mengakui bahwa kedua paham itu sama-sama benar untuk demi kebaikan bangsa Jepang. Kisah tentang Tokugawa dan Meiji bisa dilihat di banyak film samurai seperti Rurouni Kenshin, Shinsengumi atau The Last Samurai.   
Kesimpulannya…. Mari kita ciptakan perdamaian dan tak perlu saling berdebat panjang lebar sehingga timbul rasa benci dan permusuhan. Karena setiap orang akan mendapat amalannya masing-masing dari apa yang diusahakannya meskipun caranya berbeda.

Katakanlah "Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah. padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri". (Al-Baqarah:139) NB: dipostkan juga di group The Kalam of Sustainable Life - Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar