Mungkin memang aneh, aku bisa tertarik dengan agama. Aspek kehidupan yang satu ini cukup menarik untuk
dipelajari. Sebelumnya aku hanyalah anak yang suka sekali baca komik Jepang. Kemudian
dari Jepang aku mengenal kebaikan hati untuk menjaga kelestarian alam. Dan
kemudian dari Jepang dan alam juga aku mengenal makna dan nilai-nilai hidup
yang terkandung dalam agama.
namun saat mulai mengenal agama....ternyata kusadari aku baru hanya mengenal inti-intinya saja. ihsan, iman, islam yang diajarkan dalam training The ESQ Way 165. Training itupun tak sampai membahas masalah agama yang lebih luas lagi, karena memang lembaga tersebut bukanlah lembaga agama namun hanya lembaga pendidikan moral saja. Otomatis karena sudah terlanjur mengetahui intinya dan jatuh cinta dengan konsepnya aku mulai mempelajari agama yang sebenar-benarnya.
Dalam mempelajari agama, pedoman yang paling dasar adalah Al-Quran. aku pun membacanya sedikit demi sedikit. Walau kata orang membaca langsung artinya itu berbahaya karena butuh ahli tafsir untuk bisa mengerti dan paham artinya. namun, aku tetap menyukai membaca artinya. karena membaca langsung Al-Quran akan lebih langsung pula firman Allah berucap ke hati kita.
Namun, peringatan orang-orang tersebut juga tidak sepenuhnya salah. Bahasa Al-Quran memang ada yang tidak mudah di mengerti, oleh karena itu tafsir dari seorang mufasir juga sangat diperlukan agar tidak terjadi penyalahgunaan ayat Al-Quran
Jika kuperhatikan penafsiran ayat Al-Quran terbagi dalam 2 pandangan besar yaitu Tekstual (Fundamental) dan Kontekstual (Moderate). Jika dianalogikan pandangan tekstual sama seperti seseorang yang tetap menjadi dirinya sendiri apa adanya meskipun banyak orang lain mencemoohkan atau mengkritik sikapnya istilahnya "What ever what people say". Sedangkan pandangan kontekstual maka seseorang tersebut akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, kritik dan saran dari orang akan ditanggapi dan disesuaikan dengan batasan yang seimbang (moderate) antara fundamental dan konteksnya.
Sebenarnya dua cara pandang ini sama-sama benar jika melihat sikap nabi Muhammad pada riwayat berikut:
namun saat mulai mengenal agama....ternyata kusadari aku baru hanya mengenal inti-intinya saja. ihsan, iman, islam yang diajarkan dalam training The ESQ Way 165. Training itupun tak sampai membahas masalah agama yang lebih luas lagi, karena memang lembaga tersebut bukanlah lembaga agama namun hanya lembaga pendidikan moral saja. Otomatis karena sudah terlanjur mengetahui intinya dan jatuh cinta dengan konsepnya aku mulai mempelajari agama yang sebenar-benarnya.
Dalam mempelajari agama, pedoman yang paling dasar adalah Al-Quran. aku pun membacanya sedikit demi sedikit. Walau kata orang membaca langsung artinya itu berbahaya karena butuh ahli tafsir untuk bisa mengerti dan paham artinya. namun, aku tetap menyukai membaca artinya. karena membaca langsung Al-Quran akan lebih langsung pula firman Allah berucap ke hati kita.
Namun, peringatan orang-orang tersebut juga tidak sepenuhnya salah. Bahasa Al-Quran memang ada yang tidak mudah di mengerti, oleh karena itu tafsir dari seorang mufasir juga sangat diperlukan agar tidak terjadi penyalahgunaan ayat Al-Quran
Jika kuperhatikan penafsiran ayat Al-Quran terbagi dalam 2 pandangan besar yaitu Tekstual (Fundamental) dan Kontekstual (Moderate). Jika dianalogikan pandangan tekstual sama seperti seseorang yang tetap menjadi dirinya sendiri apa adanya meskipun banyak orang lain mencemoohkan atau mengkritik sikapnya istilahnya "What ever what people say". Sedangkan pandangan kontekstual maka seseorang tersebut akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, kritik dan saran dari orang akan ditanggapi dan disesuaikan dengan batasan yang seimbang (moderate) antara fundamental dan konteksnya.
Sebenarnya dua cara pandang ini sama-sama benar jika melihat sikap nabi Muhammad pada riwayat berikut:
Suatu ketika Rasulullah
SAW memerintahkan pada sekelompok sahabat untuk tidak melakukan shalat asar,
kecuali di perkampungan Banni Quraizah. Ternyata sebelum mereka sampai di
tempat tersebut waktu asar sudah hampir habis, sehingga sebagian sahabat terpaksa
melakukan shalat berdasarkan ijtihadnya, dan sebagian yang lain melakukan
shalat asar setelah mereka sampai di tempat yang ditentukan Rasulullah SAW.
Kelompok yang kedua ini juga melakukan ijthad dengan mengambil zahir teks
perintah. Setelah kasus ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau membenarkan
semua yang dilakukan para sahabatnya
Hampir sama seperti Tokugawa dan Meiji di negara Jepang
Model perbedaan ini hampir sama seperti perbedaan pandangan
antara Tokugawa dan Meiji di negara Jepang. Tokugawa pernah membantai pemeluk
agama nasrani di Amakusa karena menghawatirkan pengaruhnya dapat merusak
nilai-nilai budaya Jepang. Namun Meiji menganggap Jepang terlalu tertutup dan
bisa menyebabkan keterbelakangan terhadap bangsa Jepang. Kedua kubu ini
akhirnya bertarung dan pastinya menumpahkan banyak darah demi mengusung idealisme
yang mereka percayai. Namun pada akhirnya baik orang-orang Meiji maupun
Tokugawa mengakui bahwa kedua paham itu sama-sama benar untuk demi kebaikan
bangsa Jepang. Kisah tentang Tokugawa dan Meiji bisa dilihat di banyak film
samurai seperti Rurouni Kenshin, Shinsengumi atau The Last Samurai.
Kesimpulannya…. Mari kita ciptakan perdamaian dan tak perlu
saling berdebat panjang lebar sehingga timbul rasa benci dan permusuhan. Karena
setiap orang akan mendapat amalannya masing-masing dari apa yang diusahakannya
meskipun caranya berbeda.
Katakanlah "Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah. padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri". (Al-Baqarah:139) NB: dipostkan juga di group The Kalam of Sustainable Life - Facebook
Katakanlah "Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah. padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri". (Al-Baqarah:139) NB: dipostkan juga di group The Kalam of Sustainable Life - Facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar